Mengapa Memilih STT STAR'S LUB?

Merupakan Sekolah Tinggi Teologi yang mendidik Mahasiswa menjadi Calon Pelayan dan Pendidik yang mampu melayani di dearah yang tidak terlayani dan mampu menjangkau yang tidak terjangkau

CONTACT INFO
  • Alamat: Jl. Sungai Bunta No. 04 RT. 02, RW 03, Luwuk Banggai (94713) Kel. Keleke, Kec. Luwuk Kab. Banggai Prop. Sulawesi Tengah.
  • Phone: 085241359597, 081357547031
  • Email: sttstarslub.luwuk@gmail.com

BELAJAR, BERKARYA, BERJAYA: AKTUALISASI PENGABDIAN AKADEMISI BERBASIS ENERGI KRISTUS

img

BELAJAR, BERKARYA, BERJAYA:

AKTUALISASI PENGABDIAN AKADEMISI

BERBASIS ENERGI KRISTUS

 

Prof. Dr. Lince Sihombing, M.Pd

Rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung

mutiarafoundation@yahoo.co.id

(Orasi ilmiah ini disampaikan dalam Dies Natalis ke-12 dan Wisuda Sarjana ke-8 STT STAR’S LUB)

 

  1. Pengantar

“Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu… (Matius 28: 19) adalah amanat agung  Tuhan kita Yesus Kristus pada murid-muridNya +/- 2000 tahun yang lalu (berdasarkan hitungan Masehi), namun bagi kita para pengikut Kristus yang mendapat nama kaum Kristen rentang waktu sedemikian panjang adalah amanat yang tidak lapuk dimakan zaman, never ending, always new and forever. Untuk itulah sekolah-sekolah teologia didirikan, difasilitasi agar menghasilkan murid-murid baru atau murid-murid zaman now, di zaman milenium dengan kondisi  tantangan yang berbeda 180 derajat dari kondisi ketika amanat agung tersebut disampaikan. 

Betul, Tuhan Yesus memberi penguatan bagi kita para praktisi di ladang Tuhan ini dengan firman “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir zaman (Matius 28: 20) karena memang kesusahan hidup, tantangan pekabaran injil dan proses pemuridan para murid sehingga menjadi murid-murid Kristus yang tangguh terhadap tantangan, yang dari masa ke masa bukan semakin membaik. Hal ini dibuktikan Paulus melalui suratnya kepada jemaat Efesus “Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Efesus 5: 16) yang bermakna agar dapat menjadi seorang murid, kondisi wajib belajar tidak dapat ditawar-tawar.

Namun harus diketahui bahwa belajar di masa kini terutama belajar agar dapat menjadi murid Kristus, tidaklah sama dengan belajar di masa kehidupanNya di dunia ini.  Di zaman itu Yesus menjadi Role Model sejati. Semua gerak gerikNya dapat diamati dan ditiru oleh murid-muridNya. Dengan kuasa yang ada padaNya semua tantangan, persoalan, sakit penyakit dapat diatasi. Coba perhatikan contoh yang diperlihatkan Tuhan Yesus dalam bentuk mujizat sebagai cara pengajaran kepada para pengikutNya yang seratus persen merupakan proses yang sangat transparan tanpa rekayasa berbeda dengan kondisi zaman now yang penuh dengan rekayasa dan ketidakjujuran. Tuhan Yesus menyembuhkan seorang buta - ada media yang digunakan yaitu air ludah (Markus 8: 22), orang lumpuh disembuhkan (Matius 9: 6-7), yang mati dihidupkan – Yesus membangkitkan anak Yairus  (Markus 5: 39-42), Lazarus dibangkitkan (Yohannes 11: 43-44). Menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan (Markus 5: 34). Merekatkan kembali telinga hamba imam besar yang menangkap Tuhan Yesus di Taman Getsemane karena ditebas dengan pedang oleh salah seorang muridNya (Lukas 22: 50-51) serta masih banyak lagi mujizat yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam kesempatan ini.

Semua yang dilakukan Tuhan Yesus – yang sebagian telah diterakan pada judul di atas – yakni berkarya, yang pada akhirnya membuat Tuhan Yesus populer – identik dengan berjaya – bagi kita sekarang ini dikategorikan sebagai pengabdian. Pengabdian bagi rekan akademisi melalui sekolah-sekolah teologia.

Yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana pembelajaran yang telah para wisudawan/wati terima efektif untuk memampukan para wisudawan/wati  berkarya yang tidak ‘suam-suam kuku” sehingga hasil karya para wisudawan/wati membuat orang berdecak kagum – inilah yang identik disebut sebagai berjaya. Pekerjaan besar  yang dilakukan rekan akademisi sekalian, jika dilakukan tanpa pamrih disebut sebagai pengabdian. Untuk lebih dapat dipahami bagaimana bentuk pengabdian yang akan dilakukan, dibahas berikut ini.

 

  1. Belajar Mandiri Memperlengkapi Diri: Bekal Berkarya Di Medan Pengabdian

 

Ketika para wisudawan/wati menyelesaikan studi dan kemudian hari ini diwisuda, jangan pernah berpikir bahwa perjuangan telah selesai. Justru setelah acara wisuda ini selesai, perjuangan baru dimulai. Mulai melakukan pengabdian yang bahasa teologinya adalah melayani. Mengapa dikatakan demikian? Sebab para wisudawan/wati yang lulusan S1 Pendidikan Agama Kristen (PAK) akan mulai tanya sana-sini ke sekeliling tempat tinggalmu di sekolah mana akan mengajar. Inilah yang secara gamblang saya katakan bahwa para wisudawan/wati harus berhenti menjadi pencari kerja. Jadilah agen pemberi kerja. Jadilah pelayan bukan untuk dilayani (Matius 20: 28).

Analogi dari ayat di atas adalah para wisudawan/wati akan kecewa kalau menunggu kesempatan datang.  Tetapi berbuatlah supaya kesempatan itu ada. Pergilah keluar dari Luwuk Banggai ini.  Datang pada tempat-tempat yang tidak terpikirkan sebelumnya. Daerah-daerah yang dikategorikan sebagai daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar Indonesia). Beberapa daerah yang dikategorikan sebagai daerah 3T terdapat di propinsi Sumatera Utara – tempat dimana saya berasal. Daerah-daerah tersebut bernama Desa Muara Ampolu Kecamatan Muara Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan, Desa Haunatas Kecamatan Marancar Kabupaten Tapanuli Selatan, Desa Sitardas Kecamatan Badiri Kabupaten Tapanuli Tengah. Khusus untuk desa Muara Ampolu, ini benar-benar akan  menjadi ladang pengabdian bagi para wisudawan/wati sekalian, baik yang lulusan PAK maupun Teologi. Mengapa saya katakan demikian? Karena ternyata di negara kita Indonesia yang sangat hebat ini, belum semua desa menikmati alam kemerdekaan. Kemerdekaan dari sudut pendidikan dan ekonomi.

Desa Muara Ampolu sesungguhnya adalah desa yang subur, tetapi karena mayoritas penduduknya masih buta huruf maka jadilah mereka menjadi makanan orang pintar. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, desa ini yang dihuni lebih dari 3500 KK dan mayoritas penduduknya seiman dengan kita, mereka menjadi objek pembodohan orang-orang pintar dan kaya. Mereka adalah  para pemilik kebun sawit dan karet. Mereka dengan sengaja – karena tidak memiliki energi Kristus dalam diri mereka – tidak mau mendirikan sekolah maupun tempat ibadah. Inilah yang disampaikan Rasul Paulus dalam Suratnya Kepada Jemaat di Efesus “Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Efesus 5: 16). Pengetahuan, kepintaran dan modal yang ada pada pemilik kebun sawit dan karet  justru dijadikan alat untuk melakukan pembodohan kepada penduduk desa Muara Ampolu – yang meskipun rajin bekerja tetapi tidak dapat menikmati hasil pekerjaan mereka (secara rinci akan dipaparkan pada pelaksanaan wisuda tanggal 24 September 2019).

Keahlian para wisudawan/wati lulusan PAK dan Teologi dari STT Star’s Lub ini sangat mereka butuhkan. Khusus untuk lulusan PAK, bolehlah mengajari mereka baca – tulis – hitung (BATUHI). Contoh cara mengerjakannya – dalam bentuk makalah – akan saya sertakan sebagai lampiran karena mahasiswa IAKN Tarutung baru selesai melaksanakan KKN di desa ini. Tetap ada keterbatasan bagi mahasiswa IAKN Tarutung, karena mereka adalah mahasiswa bukan lulusan seperti wisudawan/wati sekalian. Minggu yang lalu mereka kembali ke kampus IAKN Tarutung untuk melanjutkan perkuliahannya. Tetapi jalan yang sudah mereka rintis ini menjadi lahan yang sangat terbuka untuk para wisudawan/wati  atau siapapun yang terbeban untuk melanjutkan pelayanan.

Kesempatan mengalami medan pelayanan yang sesungguhnya seperti inilah yang menyebabkan Paulus menulis dalam suratnya kepada Timotius “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Timotius 4: 7). Pertandingan yang dimaksud di sini adalah para wisudawan/wati telah menuntaskan perkuliahan, telah lulus, sementara telah memelihara iman maksudnya adalah bekal yang diperoleh selama perkuliahan digunakan untuk siap menjadi guru PAK dimanapun berada. Akan menjadi pelayan bagi jemaat lewat gereja maupun tempat-tempat lainnya bagi lulusan Teologi. Kini misi STT Star’s Lub yang ditaruhkan pada pundak para wisudawan/wati menemukan muaranya melalui tempat pelayanan seperti yang dibicarakan di atas yakni desa-desa yang sangat membutuhkan uluran tangan para wisudawan/wati yang diwisuda hari ini.

Sesungguhnya persoalan lainnya akan muncul, yakni para wisudawan/wati memang bekerja tetapi belum memperoleh penghasilan, karena apa? Karena orang-orang yang ditolong tersebut belum mampu memberikannya. Mereka bahkan belum bisa menolong dirinya sendiri. Ini terbukti dari kondisi mereka yang sesungguhnya aneh bin ajaib. Mereka bekerja mengumpulkan karet dan sawit pada kebun yang dimiliki para pemodal. Mereka pergi ke pasar untuk menjualnya setiap hari Sabtu. Hasil penjualan karet dan sawit di pasar diberikan kepada pemilik kebun sebesar 40 persen, sisanya untuk petani yang mengerjakan kebun tersebut. Dimana ada sistim kerja seperti ini? Tetapi karena mereka buta huruf mereka tidak mampu menolong diri mereka sendiri.

Sekarang berbekal keahlian para wisudawan/wati sebagai pengajar, penginjil – setelah selesai belajar 4-5 tahun – diharapkan berkarya, membuat para penduduk seperti ini mampu keluar dari persoalan hidup mereka. Persoalan berikutnya adalah agar para wisudawan/wati juga memperoleh penghasilan sebagai buah pengabdian. Bagaimana caranya, berikut akan dibicarakan.

 

  1. Jejaring Sosial, Kemauan Keras: Kunci Sukses Mengabdi Berbasis Energi Kristus

 

Pekerja sosial yang banyak mengabdi di daerah-daerah terpencil seperti di pedalaman hutan Jambi dilakoni oleh Butet Manurung, memberi warna  kehidupan baru, masa depan maju bagi anak-anak usia muda, para penduduk Suku Anak Dalam. Tidak ada ruang belajar tempat Butet mengajar anak-anak tersebut, tidak ada alat tulis yang dapat digunakan membantu mereka belajar. Butet menggunakan lahan di hutan yang telah dibersihkan dari rerumputan untuk dijadikan media tulis dan ranting kayu untuk menulis di tanah. Butet juga menjadikan dahan-dahan kayu tumbang untuk tempat duduk anak-anak yang sebagian mengelilinginya tetapi beberapa diantaranya, yang lebih suka belajar sembari menggantung di pohon, Butet juga mengakomodir mereka.

Belum pernah ada pemberitaan yang menyebutkan bahwa Butet juga mengajarkan Pendidikan Agama Kristen. Tidak ada media yang pernah meliput bahwa Butet mendapat honor, karena dia memang secara sukarela melakukannya. Ketertarikan Butet melakukan pendidikan pada anak-anak Suku Anak Dalam ini dimulai jauh-jauh hari ketika melakukan KKN ke pedalaman. Butet memiliki back ground sosiologi, tetapi di tengah perjalanan justru Butet berubah haluan menjadi pendidik.

Apa yang membuat Butet mampu bertahan, bahkan berjaya (diberitakan oleh media dalam dan luar negeri bahkan bersuamikan orang Australia) adalah kemampuannya membuat dan menggunakan jejaring sosial. Jaringan sosial yag dibangunnya membuatnya terkoneksi dengan UNESCO dan pada akhirnya UNESCO menjadi pendonor untuk semua kegiatan pendidikan yang dilakukannya.

Kondisi para wisudawan/wati sekarang ini jauh lebih baik dari kondisi Butet, hanya tinggal membangun jejaring sosial ke negara-negara pendonor bantuan kemanusiaan melalui UNESCO bahkan dapat memperoleh dana CSR dari perusahaan-perusahaan besar di dalam dan luar negeri Indonesia.

Yang dibutuhkan sekarang hanyalah tekad bulat untuk bekerja  keras – sebagai wujud berkarya – untuk dapat mengabdikan ilmu di tempat-tempat yang sangat memerlukan uluran tangan para wisudawan/wati. Ilmu yang dimiliki para wisudawan/wati adalah ilmu yang sangat dibutuhkan  oleh penduduk desa-desa yang disebutkan di halaman-halaman sebelumnya. Sebagai contoh, para wisudawan/wati boleh membuat skala prioritas, apakah lebih dahulu mendidik siswa usia muda atau mendidik siswa usia tua. Siswa usia tua ini adalah pencari nafkah  dalam keluarga. Itu sebabnya tim KKN IAKN Tarutung sempat terkendala dalam proses pendidikan yang diberikan kepada mereka.

Mereka menjadi pekerja di kebun sawit atau karet yang dimiliki para pemodal dari Senin sampai Jumat, mulai pukul 07.00 pagi sampai 18.00 sore, berarti hanya tertinggal waktu sedikit untuk mengajari mereka. Ironisnya, listrikpun belum ada sehingga tim KKN IAKN Tarutung harus menggunakan lampu minyak tanah persis seperti kembali ke zaman dulu. Hal ini yang selalu saya sampaikan kepada setiap pengajar yang diutus kesana sebagai dunia dalam PARADOKS. Di kota-kota lalu lintas komunikasi sudah daring, disana justru luring. Di kota, hand phone menjadi keharusan, disana hand phone tidak berguna karena tidak ada jaringan.

Di samping para wisudawan/wati wajib menolong mereka lewat pendidikan – dipilih sendiri harus memulai dari mana – juga harus bisa mencari kebutuhan hidup sehari-hari. Di awal-awal memang butuh bantuan dari penduduk desa yang diajar, tetapi para wisudawan/wati sendiripun dapat mendidik mereka untuk dapat menambah penghasilan melalui menanami tanah-tanah ulayat dengan tanaman usia pendek tetapi memiliki nilai ekonomis tinggi. Para wisudawan/wati dan para penduduk desa dapat belajar bersama-sama untuk melakukannya. Dengan demikian para wisudawan/wati telah membantu mereka meningkatkan penghasilannya. Untuk selanjutnya para wisudawan/wati dapat mengadopsi cara yang dilakukan Butet Manurung dalam membangun jejaring sosial.

Salah seorang akademisi yang sekarang sedang bekerja sama dengan IAKN Tarutung dalam rangka pemberdayaan masyarakat Kristen, memberi perhatian yang besar pada upaya perbaikan hidup mereka. Beliau sudah mendatangi daerah-daerah yang sudah disebutkan di atas, melihat dan menganalisis karakter tanah untuk dapat diketahui tanaman usia muda yang bagaimana  yang cocok ditanam di daerah itu. Kegiatan yang dilakukannya ini murni pengabdian,  karena diusianya yang beranjak tua, di atas 55 tahun, ingin membaktikan hidupnya di dalam melayani Tuhan. Beliau sama dengan Butet, berasal dari luar  ilmu keagamaan tetapi dalam kesehariannya mengimplementasikan keahliannya untuk membantu para penduduk miskin di daerah tersebut. Jika beliau akademisi di luar ilmu teologi memiliki energi Kristus dalam dirinya apalagi para wisudawan/wati sekalian yang sejak semester awal hingga diwisuda hari ini telah dipersiapkan untuk mengabdi melalui cara pelayanan dunia pendidikan: afektif dan kognitif secara bersamaan. Bangun jugalah jejaring sosial dengan beliau dari Luwuk Banggai ini untuk memperkaya wawasan sehingga dengan bertambahnya wawasan dapat menjadi berkat bagi warga desa-desa yang perlu ditolong.

 

  1. Penutup

Maka kataNya kepada murid-muridNya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Matius 9: 37), bukan perkara main-main. Ini sesungguhnya mandatori yang tidak terbantahkan.  Tuaian dalam hal ini jangan selalu diartikan sebagai upaya Kristenisasi tetapi upaya pemberdayaan penduduk desa yang kebanyakan masih dalam kategori belum sejahtera karena ketidakmampuan untuk menolong diri sendiri walaupun bermukim di daerah yang subur.  Para wisudawan/wati yang telah selesai belajar, berkaryalah dengan memanfaatkan segala ilmu yang telah dimiliki. Berinovasilah agar kualitas hidup para penduduk yang dilayani menunjukkan kenaikan yang signifikan. Jika hal ini berhasil maka layaklah para wisudawan/wati mendapat kategori ketiga yakni berjaya. Tenaga akademisi yang berjaya. Berjaya di dalam pancaran energi Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.    

 

 

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

 

Nama

Prof. Dr. Lince Sihombing, M. Pd.

Tempat/tanggal lahir

Medan, 25 April 1961

NIP

19610425 198601 2 001

Pangkat/Golongan

Pembina Utama Madya/IV-d

Jabatan Fungsional

  • Guru Besar di Institut Agama Kristen Negeri  (IAKN) Tarutung

Jabatan Struktural

  • Sekretaris Prodi LTBI Pascasarjana Universitas Negeri  Medan

   (2009-Agustus 2011)

  • Dekan Fakultas Sastra Universitas Darma Agung Medan (Oktober 2011 – s/d Juni 2013)
  • Ketua Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Tarutung (2015-2019)
  • Rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung (2018-2022)

Unit Kerja

Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung

Alamat

Kampus II IAKN Tarutung, Silangkitang  Kab. Tapanuli. Utara Prop. Sumatera Utara

HP

+6281361020111

E-mail

mutiarafoundation@yahoo.co.id

mutiarafoundation90@gmail.com

 

Jenjang Pendidikan                                                                                                                                          

Strata

Lembaga

Gelar

Tahun

Bidang Ilmu

SD

SD Bhayangkari Medan

-

1973

-

SMP

SMP St. Thomas Medan

-

1976

-

SMA

SMA Negeri IV Medan

 

1980

IPS

S1

IKIP Negeri Medan

Dra

1985

B. Inggris

S2

IKIP Negeri Jakarta

M.Pd

1994

Pend. Bahasa

S3

Universitas Negeri Jakarta

Dr.

2001

Pend. Bahasa

 

 

 

 

 

 

Kegiatan mengajar pada

 

  1.  IAKN Tarutung

 

Kegiatan lain

  1. Instruktur Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) & PPG
  2. Reviewer Berkas Pengajuan Guru Besar Dosen PTS Kopertis Wil. I Sumut & NAD.

 

Piagam/Penghargaan Yang Diterima

No

Nama Piagam/Penghargaan

No/Tgl/Thn

1

Sertifikat Pendidik dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia

09110400368

15 April 2009

2

Tanda Kehormatan Satyalancana Satya Karya 20 tahun dari Presiden Republik Indonesia

31354/4/2009

20 April 2009

3

Tanda Kehormatan Satyalancana Satya Karya 30 tahun dari Presiden Republik Indonesia

601/4/2016

22 Nop. 2016

 

 

Karya Ilmiah Yang Dihasilkan 3 Tahun Terakhir

  1. Menulis Buku: Bunga Rampai Proses Pembelajaran: Dari Penanganan Klasikal ke Komunal, Terbitan STAKPN Tarutung Press, 2017
  2. Menulis Buku: English For Students of Christian  Institution, Terbitan IAKN Tarutung Press, 2018
  3. Invited Speaker pada ISEP Fall 2018

International Symposium on Education and Psychology – Fall Session dengan judul tulisan: Establishing Evaluation Skills of Primary Teacher Candidates Through Implementing Kratwohl-Dyers-Bloom Models Collaboration

Kyoto, Jepang 13-15 Nopember 2018

  1. Menulis Buku: Penulisan Skripsi Berbasis Metodologi Penelitian, Terbitan IAKN Tarutung Press, 2019.

 

 

 

 

STAR'S LUB 5