Mengapa Memilih STT STAR'S LUB?

Merupakan Sekolah Tinggi Teologi yang mendidik Mahasiswa menjadi Calon Pelayan dan Pendidik yang mampu melayani di dearah yang tidak terlayani dan mampu menjangkau yang tidak terjangkau

CONTACT INFO
  • Alamat: Jl. Sungai Bunta No. 04 RT. 02, RW 03, Luwuk Banggai (94713) Kel. Keleke, Kec. Luwuk Kab. Banggai Prop. Sulawesi Tengah.
  • Phone: 085241359597, 081357547031
  • Email: sttstarslub.luwuk@gmail.com

Komunitas Yang Berbagi (Kisah Para Rasul 4:32-37)

img

Dalam berbagai kesempatan saya berkali-kali menyatakan bahwa berada di tempat yang sama pada waktu yang untuk melakukan hal yang sama belum tentu menunjukkan kebersamaan. Kualitas kebersamaan diuji melalui persoalan atau kebutuhan. Seandainya salah satu anggota menghadapi kesukaran, apakah yang lain siap mengulurkan tangan untuk memberikan pertolongan? Bagi sebagian komunitas, jawabannya adalah negatif. Mementingkan diri sendiri seringkali lebih mendominasi.

Keadaan semakin runyam pada komunitas yang besar. Jumlah anggota yang besar seringkali berbanding terbalik dengan jumlah perhatian yang diterima oleh setiap orang. Semakin besar ukuran suatu gereja, semakin sukar membagi perhatian yang rata untuk semua anggotanya. Perasaan diabaikan dan disisihkan seringkali menghinggapi sebagian orang, terutama kaum marjinal.

Tidak demikian yang terjadi dengan gereja yang ideal. Ukuran besar bukanlah penghalang untuk memberikan bantuan. Kaum yang terpinggirkan justru menjadi pusat perhatian. Itulah yang dicontohkan oleh gereja mula-mula dalam teks kita hari ini.

Keberanian untuk memberitakan Injil membawa hasil (4:31). Orang-orang Kristen sekarang telah menjadi sebuah kumpulan (LAI:TB, ayat 32a pl?thos). Kata Yunani ini menyiratkan jumlah yang besar (KJV “multitude”; ESV “full number”; 2:6; 5:14, 16; 14:4).

Menariknya, penambahan jumlah anggota tidak mengurangi kebersamaan di antara mereka. Kesatuan yang sudah sebelumnya (bdk. 2:44-47) tetap dijaga. Ternyata ukuran komunitas yang besar tidak selalu berbanding terbalik dengan kualitas kebersamaan di dalamnya.

 

Bentuk kebersamaan

Kebersamaan dapat diwujudkan melalui berbagai cara. Sebelumnya kita sudah melihat bagaimana jemaat mula-mula selalu bersekutu bersama-sama, menunjukkan sikap hidup yang gembira, memecahkan roti secara bergantian, maupun berbagi harta bersama (2:44-47). Teks hari ini secara khusus menyoroti wujud yang terakhir dalam daftar ini, yaitu berbagi harta.

Dipenuhi oleh Roh Kudus tidak hanya menghasilkan keberanian untuk memberitakan Injil (4:31). Keberanian untuk berbagi harta juga merupakan salah satu wujud karya Roh Kudus. Jemaat mula-mula mengurbankan apa yang mereka miliki untuk menolong orang lain yang berkekurangan dan membutuhkan.

Teks tidak menginformasi jumlah persis atau penyebab dari kekurangan yang dialami oleh sebagian jemaat mula. Menurut perkiraan secara kasar, jumlah populasi menengah ke atas hanya 10%, jumlah populasi yang lebih kaya semakin sedikit lagi (sekitar 4-7%). Ini berarti bahwa jumlah penduduk yang miskin bisa mencapai sekitar  80% dari populasi. Apakah statistik yang sama juga mewakili keadaan gereja mula-mula? Bisa saja. Semakin banyak petobat baru berarti semakin banyak orang miskin di dalam gereja.

Sebagian penafsir menduga kemiskinan yang ada berkaitan dengan penganiayaan. Seorang yang dianiaya berarti harus siap-siap untuk terpisah dari komunitas. Yang bersangkutan seringkali harus kehilangan identitas, pekerjaan, dan perlindungan. Jikalau Petrus dan Yohanes (Kis. 4:1-21) menghadapi tantangan yang begitu besar, tidak tertutup kemungkinan tekanan yang sama menimpa jemaat juga.

Faktor lain mungkin adalah perpindahan. Kegerakan rohani yang besar di Yerusalem (Kis. 2) mungkin mendorong banyak pengikut Yesus untuk meninggalkan tempat asal mereka dan menetap di kota ini. Belum lagi para peziarah dari berbagai tempat yang memperingati Hari Raya Pentakosta di Yerusalem. Tidak tertutup kemungkinan kalau sebagian dari antara mereka yang bertobat memilih untuk tinggal di Yerusalem. Jika ini yang terjadi, mereka pasti berada dalam keadaan yang sukar.

Terlepas dari faktor mana yang benar, faktanya adalah banyak jemaat mula-mula mengalami kemiskinan. Mereka membutuhkan pertolongan. Puji Tuhan! Bagi mereka masih ada harapan. Apa yang dilakukan oleh jemaat-jemaat lain membuat orang-orang marjinal ini tidak mengalami kekurangan (4:34a). Mereka tidak diabaikan, apalagi disisihkan. Itulah yang seharusnya dilakukan. Yang perlu disisihkan itu bukan orang yang tidak punya, tetapi harta yang kita punya. Untuk mereka.

Orang-orang yang memiliki tanah dan rumah rela menjual milik mereka. Tujuannya bukan pemerataan, tetapi keseimbangan (bdk. 2Kor. 8:13-14). Yang kaya tidak hidup dalam kemewahan, yang miskin tidak hidup dalam kekurangan. Setiap orang mendapati bahwa kebutuhannya terpenuhkan.

Untuk menghindari beberapa kesalahpahaman, kita perlu menjelaskan beberapa hal. Penjualan ini bukan merupakan keterpaksaan (5:4). Kalaupun dijual, hasilnya tidak harus diberikan sepenuhnya. Berikutnya, tidak semua harta dijual. Buktinya sebagian jemaat masih memiliki rumah (2:46; 8:3; 9:11). Kunci terletak di sini: “lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya” (4:35b). Pemberian ini bukan untuk pamer kemurahhatian. Bukan sekadar ikut-ikutan. Penjualan dimaksudkan untuk memberikan bantuan kepada yang berkekurangan.

 

Rahasia di balik kebersamaan      

Kebersamaan seperti di atas jelas tidak terjadi secara natural. Manusia cenderung mempertahankan harta, bukan membagikannya. Mengapa jemaat mula-mula dapat melakukan sebaliknya?

Pertama, sikap hati yang benar (ayat 32). Kebersamaan sejati tidak mungkin sekadar ikut-ikutan. Semua dimulai dari dalam. Pembagian harta dimulai dari hati dan jiwa (ayat 32a “sehati dan sejiwa”). Ini merupakan ungkapan yang merujuk pada persahabatan yang nyata. Jika seseorang memandang persahabatan berharga, dia pasti merelakan hartanya bagi sahabat-sahabatnya. Dengan kata lain, hati yang baik pasti tidak menjadikan harta segala-galanya (bdk. Mat. 6:21). Mereka yang sulit berbagi harta berarti hatinya sudah terbagi untuk harta.

Kedua, anugerah di dalam Injil (ayat 33). Dalam teks Yunani, kata “besar” dan “melimpah-limpah” menggunakan kata yang sama, yaitu megal? (lit. “besar”). Kesamaan ini menyiratkan keterkaitan yang erat antara ayat 33a dan 33b. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa yang sangat besar, sehingga sangat wajar jika pemberitaannya juga disertai dengan kuasa yang besar. Pada akhirnya, berita itu mengalirkan kasih karunia yang besar. Kasih karunia dalam Injil akan menggerakkan orang percaya untuk membagikan harta mereka. Sebagaimana Allah rela mendatangi dan menolong kita dalam kemiskinan rohani kita, kita pun rela menolong orang lain yang miskin (baik secara jasmani maupun rohani). Hanya mereka yang menyadari dan mengalami kasih karunia Allah yang melimpah yang akan dengan mudah menolong mereka yang sedang susah.

Ketiga, kepemimpinan yang jelas (ayat 34-35). Dalam teks kita hari ini dua kali disebutkan bahwa hasil penjualan diletakkan di depan kaki para rasul (4:35, 37). Keterangan jelas bukan tanpa alasan. Bagian-bagian selanjutnya menunjukkan betapa pentingnya para pemimpin yang mengelola pemberian tersebut. Petrus menguji ketulusan dan kejujuran Ananias dan Safira (5:1-11). Sayangnya, mereka gagal menunjukkan dua hal itu. Pada saat terjadi pertengkaran seputar pembagian di antara para janda, para rasul merasa perlu untuk memilih beberapa orang yang secara khusus mengurusi masalah ini (6:1-7). Pemimpin yang baik memastikan pemberian dilakukan dan dibagikan dengan cara yang baik. Pendeknya, jemaat tidak hanya asal memberi. Kepada siapa pemberian itu dipercayakan juga sangatlah penting.

Keempat, keteladanan (ayat 36-37). Penyebutan nama “Barnabas” di sini merupakan sebuah strategi sastra untuk memperkenalkan figur Barnabas yang nanti akan muncul di bagian-bagian selanjutnya (nama ini muncul sekitar 30x dalam kitab ini). Di samping itu, Barnabas juga ditampilan sebagai salah satu contoh positif dalam hal memberi. Dia tidak seperti Ananias dan Safira. Itulah sebabnya para rasul memberi julukan “anak penghiburan” kepadanya. Dia selalu ada ketika orang lain membutuhkannya. Kehadiran orang-orang seperti bukan hanya akan memberikan dorongan, tetapi arahan yang benar. Bukan hanya menggerakkan, tetapi sekaligus mengarahkan.

Sudahkah Anda menyadari bahwa kekayaan adalah kasih karunia? Jika sudah, mengapa Anda masih merasa sukar untuk melepaskannya? Bukankah Allah sudah menolong Anda dalam keberdosaan dan ketidakberhargaan Anda? Mengapa Anda sukar mengorbankan harta Anda? Kiranya Roh Kudus mengubahkan dan menjaga hati kita dari cinta harta. Soli Deo Gloria.

Sumber : http://rec.or.id/article_983_Komunitas-Yang-Berbagi-(Kisah-Para-Rasul-4:32-37)

Teologi 26